Kualitas Udara dan Kesehatan Para Pemulung Di TPA Heuleut-Kadipaten, Majalengka - Desa Heuleut
Headlines News :
Home » » Kualitas Udara dan Kesehatan Para Pemulung Di TPA Heuleut-Kadipaten, Majalengka

Kualitas Udara dan Kesehatan Para Pemulung Di TPA Heuleut-Kadipaten, Majalengka

Written By Sync Ali on Selasa, 22 Desember 2015 | 09.04

1.    Kualitas Udara
Manusia dalam aktivitasnya tidak telepas dari kebutuhan terhadap ruang. Ruang tempat mereka tinggal dalam upaya meningkatkan status dan kualitas hidupnya yaitu dengan mengolah sumber daya, baik itu sumber daya alam atau pun sumber daya manusia itu sendiri. Disadari atau tidak dalam proses pemanfaatan sumber daya itu manusia menghasilkan sampah, dan sampah tersebut akan penyebabkan pencemaran lingkungan.
Proses akhir dari rangkaian penanganan sampah yang biasa dijumpai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbul di sumber, pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan. TPA merupakan tempat dimana sampah diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya. Karenanya diperlukan penyediaan fasilitas dan perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat dicapai dengan baik.
Tempat pembuangan akhir sampah (TPA) Heuleut  merupakan salah satu tempat pembuangan akhir sampah yang terdapat di Kecamatan Kadipaten, Majalengka. Metode pembuangan sampah yang digunakan di TPA heuleut adalah metode open dumping. Sampah yang sudah diangkut oleh truk sampah, akan langsung dibuang dengan cara menumpuk sampah di TPA, sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, di TPA tersebut juga banyak terdapat tenda-tenda sementara untuk para pemulung yang bekerja di TPA tersebut. Di tenda tersebut, mereka meletakkan barang-barang dari hasil pencarian barang bekas, selain itu mereka beristirahat dan makan siang di tenda tersebut. Di TPA Heuleut juga kadang terjadi pembakaran. Pembakaran tersebut tidak dilakukan secara sengaja. Pembakaran terjadi akibat dari puntung rokok yang dibuang secara sembarangan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Tempat pembuangan akhir sampah dengan sistem open dumping menimbulkan bau telur busuk karena tumpukan sampah mengalami dekomposisi secara alamiah menghasilkan gas H2S, metana dan amoniak. Bau ini dapat menyebar di TPA dan sekitarnya sehingga menurunkan kualitas udara (Soemirat, 2009).
Penguraian sampah sendiri disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme. Pembusukan sampah ini akan menghasilkan gas metana (CH4)  yang bersifat racun bagi tubuh makhluk hidup. Sampah yang tidak dapat membusuk adalah sampah yang memiliki bahan  dasar plastik, logam, gelas dan karet. Untuk pemusnahannya dapat dilakukan pembakaran. Proses pembakaran sampah tersebut dapat menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) yang dapat menimbulkan dampak lingkungan. Peningkatan jumlah sampah disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk, keadaan sosial ekonomi dan kemajuan teknologi (Nandi, 2005).

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Tokoh Masyarakat

Image and video hosting by TinyPic
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Desa Heuleut - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger