1. Kualitas Udara
Manusia dalam aktivitasnya tidak telepas dari kebutuhan terhadap ruang. Ruang tempat mereka tinggal dalam upaya meningkatkan status dan kualitas hidupnya
yaitu dengan mengolah sumber daya, baik itu sumber daya alam atau pun
sumber daya manusia itu sendiri. Disadari atau tidak dalam proses
pemanfaatan sumber daya itu manusia menghasilkan sampah, dan sampah
tersebut akan penyebabkan pencemaran lingkungan.
Proses akhir dari rangkaian penanganan sampah yang biasa dijumpai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbul di sumber, pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan. TPA merupakan tempat dimana sampah diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya. Karenanya diperlukan penyediaan fasilitas dan perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat dicapai dengan baik.
Tempat
pembuangan akhir sampah (TPA) Heuleut merupakan salah satu tempat
pembuangan akhir sampah yang terdapat di Kecamatan Kadipaten,
Majalengka. Metode pembuangan sampah yang digunakan di TPA heuleut
adalah metode open dumping. Sampah yang sudah diangkut oleh truk
sampah, akan langsung dibuang dengan cara menumpuk sampah di TPA,
sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, di TPA tersebut
juga banyak terdapat tenda-tenda sementara untuk para pemulung yang
bekerja di TPA tersebut. Di tenda tersebut, mereka
meletakkan barang-barang dari hasil pencarian barang bekas, selain itu
mereka beristirahat dan makan siang di tenda tersebut. Di TPA Heuleut
juga kadang terjadi pembakaran. Pembakaran tersebut tidak dilakukan
secara sengaja. Pembakaran terjadi akibat dari puntung rokok yang
dibuang secara sembarangan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Tempat pembuangan akhir sampah dengan sistem open dumping menimbulkan bau telur busuk karena tumpukan sampah mengalami dekomposisi secara alamiah menghasilkan gas H2S, metana dan amoniak. Bau ini dapat menyebar di TPA dan sekitarnya sehingga menurunkan kualitas udara (Soemirat, 2009).
Penguraian sampah sendiri disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme. Pembusukan sampah ini akan menghasilkan gas metana (CH4)
yang bersifat racun bagi tubuh makhluk hidup. Sampah yang tidak dapat
membusuk adalah sampah yang memiliki bahan dasar plastik, logam, gelas
dan karet. Untuk pemusnahannya dapat dilakukan pembakaran. Proses
pembakaran sampah tersebut dapat menghasilkan gas karbon dioksida (CO2)
yang dapat menimbulkan dampak lingkungan. Peningkatan jumlah sampah
disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk, keadaan sosial ekonomi dan
kemajuan teknologi (Nandi, 2005).
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !